Ketika Tambang Lebih Dewasa Dari Manusia

Admin - UMUM • OPINI
Ketika Tambang Lebih Dewasa Dari Manusia

‎Bayangkan belasan tahun lalu, sebuah wilayah dengan keadaan alam yang terjaga secara alami. Hewan-hewan bebas dan gembira. Nelayan mendapat tangkapan yang banyak tiap harinya. Petani sejahtera dengan ladang terbentang luas. Anak-anak bersekolah dengan menghirup udara segar. 

‎Namun di ambang kebahagiaan itu, terdapat sesuatu yang bernilai di bawah tanah tempat mereka bernaung. Nikel!

‎Industri dengan cepat masuk. Alasannya sebagai roda penggerak ekonomi negara serta berkelanjutan. Beserta berbagai janji demi kesejahteraan masyarakat yang tinggal di atas nikel. Kendaraan akan berubah menjadi penyayang lingkungan.

‎Berdasarkan MapBiomas, hanya butuh beberapa tahun saja kita melihat daerah tersebut berubah menjadi neraka bagi masyarakat. Resiko penyakit, perampasan lahan, hilangnya mata pencarian nelayan, hewan-hewan pergi. Semua karena keadaan alamnya telah berubah menjadi bom waktu. Air, udara, dan tanah semuanya kena. Menimbulkan paradoks seperti menutup lubang lainnya dengan menggali lubang lainnya. 

‎Dari cara pola pikir manusia yang merelakan alamnya, menumbuhkan sebuah pertanyaan besar. Apakah kita benar-benar sudah dewasa jika masih merusak tempat kita hidup?

‎Dewasa itu bukan kita yang sudah berumur 20, 30, atau 60 tahun. Secara biologis memang benar, namun jika bicara soal dewasa ekologis, kita akan mendapat soal mengenai cara berpikir, bertanggung jawab, dan melihat dampak jangka panjang. Banyak dari kita sudah merasa dewasa, tetapi masih memiliki sifat eksploitatif, berpikir jangka pendek, serta mengabaikan sebuah dampak. Seperti eksploitasi sumber daya atau merusak agraria. Dari kedewasaan itu mereka berlindung di balik kata “pembangunan”. Namun, justru kita melihat pembangunan itu menghancurkan masa depan. 

‎Semua karena pola pikir instan serta memprioritaskan profit. Generasi muda juga diabaikan, karena budaya yang merasa bahwa manusia adalah pemilik bumi, bukan bagian dari bumi. Manusia sekarang memang maju secara teknologi, tapi belum tentu matang soal moral dan etika. 

‎Moral itu akan muncul dalam benak manusia jika bumi mulai bersuara. Banjir, longsor, krisis iklim. Si pendosa bahkan yang tak berdosa akan terkena dampaknya, karena bumi yang menjadi korban tak bisa memilih siapa yang bertanggung jawab. 

‎Kita membutuhkan kedewasaan ekologis. Kita membutuhkan kebijakan yang berpihak pada lingkungan. Kita juga butuh kesadaran dari manusia sebagai bagian dari bumi, bukan sebagai penguasa bumi. Bumi tidak butuh manusia yang sekadar tua, tapi bumi membutuhkan manusia yang benar-benar dewasa.

Penulis: Ilham 

Editor: Dipsi

Baca tulisan lainnya: Katanya Tinggal Skripsi, Tapi Kok Rasanya Makin Kehilangan Diri Sendiri?

Admin - UMUM • OPINI Minggu, 17 Mei 2026 - 9:52 pm

MUNGKIN KAMU SUKA

UKOF UNIVERSITAS TADULAKO GELAR LOMBA FUTSAL CHAMPION LEAGUE 2024

Unit Kegiatan Olahraga Fisip (UKOF) Universitas Tadulako (Untad) melaksanakan Lomba Futsal Champion League (FCL) tingkat Provinsi Sulawesi Tengah di gedung Gelora Bumi Kaktus Andiraga Petalolo.…

Admin 1 tahun yang lalu
Serukan Sembilan Tuntutan, GMU Dan Rektor Untad Tidak Menemui Titik Terang

Ganyang mafia kampus, tindak tegas seluruh indikasi pelanggaran di Universitas Tadulako (Untad). Isu sentral yang disuarakan oleh seluruh mahasiswa Untad yang membentuk Gerakan Mahasiswa Untad…

Admin 4 tahun yang lalu
Memorial G30S PKI: Ingatlah Untuk Tetap Bersatu

Peristiwa G30S PKI adalah babak kelam dalam sejarah bangsa Indonesia yang meninggalkan banyak pelajaran berharga. Pada malam itu, terjadi upaya kudeta yang disertai kekerasan dan…

Admin 11 bulan yang lalu