Katanya Tinggal Skripsi, Tapi Kok Rasanya Makin Kehilangan Diri Sendiri?
“Katanya tinggal skripsi tapi kok rasanya makin kehilangan diri sendiri” bukan sekadar keluhan iseng mahasiswa akhir. Kalimat itu adalah potret jujur dari fase yang sering dianggap sederhana oleh orang luar, tetapi justru paling menguras bukan hanya tenaga, tapi juga arah hidup.
Di tahap ini, mahasiswa tidak lagi sekadar menghadapi tugas akademik. Ada tekanan dari banyak arah, tuntutan kampus, ekspektasi keluarga, masalah pribadi, perbandingan dengan teman, hingga kecemasan tentang masa depan. Semua datang bersamaan, membuat banyak orang merasa berjalan tanpa benar-benar tahu tujuan.
Ada paradoks yang sering terjadi. Secara administratif, mereka terlihat dekat dengan garis akhir. Namun secara emosional, justru sering merasa paling jauh dari diri sendiri. Rutinitas yang dulu jelas kini tergantikan oleh revisi tanpa kepastian dan pertanyaan yang terus berulang: “Aku mau ke mana setelah ini?”.
Masalahnya bukan sekadar skripsi yang sulit. Yang lebih berat adalah proses mempertanyakan ulang identitas diri. Skripsi seringkali jadi titik di mana seseorang mulai sadar bahwa dunia di luar kampus tidak sesederhana yang dibayangkan. Gelar tidak otomatis menjamin arah, dan pilihan hidup tidak lagi bisa ditunda. Di sinilah rasa “kehilangan diri” itu muncul, ketika realitas mulai bertabrakan dengan ekspektasi.
Sayangnya, lingkungan sekitar sering gagal membaca situasi ini. Kalimat seperti “cuma skripsi” atau “yang lain sudah lulus” justru menambah tekanan. Padahal setiap orang punya ritmenya sendiri, dan proses ini bukan sekadar soal cepat atau lambat melainkan perjalanan yang juga melibatkan kesiapan mental. Ketika seseorang butuh waktu lebih lama, bukan berarti ia gagal. Bisa jadi ia sedang berusaha bertahan di tengah kondisi yang tidak semua orang lihat.
Yang sering dilupakan adalah bahwa mahasiswa akhir tetap manusia, bukan mesin produksi gelar. Mereka bisa lelah, ragu, bahkan kehilangan arah. Dan itu valid. Tidak semua proses harus terlihat produktif dari luar. Kadang, bertahan saja sudah merupakan pencapaian.
Karena pada akhirnya, menyelesaikan skripsi memang penting. Tapi menemukan kembali diri sendiri di tengah proses itu, jauh lebih krusial. Tanpa itu, kelulusan hanya akan jadi formalitas, sementara kebingungan tetap tinggal.
Penulis: Namikaze
Editor: Dipsi
Baca tulisan lainnya: Pengukuhan Lembaga FISIP Untad: Upgrade Tata Kelola Menuju Akreditasi Unggul
MUNGKIN KAMU SUKA
PENTINGNYA EDUKASI KESEHATAN MENTAL BAGI MAHASISWA
[LPM NASIONAL] - Meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa menjadi tamparan keras terhadap kampus-kampus yang ada. Pihak kampus gagal memberikan pemahaman mengenai…
PENCURI HAK MAHASUSAH
Haruskah kau ku sebut sebagai pencuri?
Berkawan dengan para tikus tikus berdasi
Menggunakan uang negara untuk mencukupi keperluan yang tidak kau butuhkan
Agar terlihat ada…
UKOF UNTAD RAIH JUARA LIGA FUTSAL MAHASISWA SE- SULAWESI TENGAH
Unit Kegiatan Olahraga Fisip (UKOF) Universitas Tadulako (Untad) berhasil memenangkan Liga Futsal Mahasiswa se-Sulawesi Tengah yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Olahraga Mahasiswa (UKOM) Fakultas Hukum…
LPM NASIONAL FISIP UNTAD