Kolaborasi LPM Nasional Dan Qalamun Gelar Diskusi Kritis Film "Pesta Babi" Di Palu

Admin - UMUM
Kolaborasi LPM Nasional Dan Qalamun Gelar Diskusi Kritis Film

PALU – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Nasional dan LPM Qalamun menggelar aksi kolaborasi lewat kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan diskusi kritis film berjudul "Pesta Babi".

‎Agenda tersebut dilaksanakan di Cafe Sanz Coffee dengan dihadiri oleh puluhan mahasiswa dari berbagai kalangan pada Senin, (7/6/2026).

‎Kolaborasi antar lembaga pers mahasiswa tersebut sengaja diinisiasi untuk menghidupkan kembali ruang dialektika dan membedah isu-isu kontemporer melalui medium audio visual.

‎Untuk memandu jalannya bedah film, pelaksanaan diskusi menghadirkan dua pemantik, yakni Ilham Januari (Pegiat Literasi) dan Moh. Ridwan F. Suleman (PresMa UIN Datokrama Palu)

‎Diskusi mengupas bagaimana sebuah karya film mampu menjadi magnet bagi massa yang bahkan sebelumnya jarang menyentuh ruang-ruang diskusi sosial.

‎Menurut Ridwan, daya tarik utama yang memicu antusiasme penonton di awal pemutaran bersumber dari pemilihan judulnya yang dinilai berani, provokatif, sekaligus mengundang rasa penasaran yang besar di kalangan mahasiswa umum.

‎"Kenapa akhirnya ini barang ramai di awal-awal? Karena memang banyak orang yang penasaran, 'Apa Pesta Babi ini?' Judulnya memang semenarik itu. Dan akhirnya banyak orang yang penasaran, bahkan sampai teman-teman yang tidak pernah turun ke jalan," ujarnya saat diwawancarai usai kegiatan berlangsung.

‎Selain membahas daya tarik sinematografi dan muatan isu di dalam film, kedua pemantik juga mengajak peserta merefleksikan tantangan dalam mengawal isu-isu kemasyarakatan dan kenegaraan. Ruang diskusi alternatif seperti ini diharapkan tidak sekadar menjadi tren musiman atau ajang ikut-ikutan semata.

‎Sesi diskusi menggarisbawahi bahwa jalur kritis dalam menentang ketimpangan atau mengkritisi kebijakan yang bermasalah sering kali menjadi pilihan yang sunyi dan penuh tantangan. Oleh karena itu, konsistensi dari komunitas mahasiswa dan lembaga pers sangat diuji untuk tetap bertahan menyuarakan aspirasi publik.

‎Sementara itu, Luli Afianti Direktur Umum LPM Qolamun mengaku miris dengan apa yang ia saksikan dalam film terutama pada masyarakat Papua yang mana hak-haknya tidak dijamin oleh negara.

‎"Ada tiga hal menurut saya yang bisa mengubah kehidupan yang pertama garis tangan, yang kedua tanda tangan dan yang ketiga adalah campur tangan. Dalam hal ini saya rasa teman-teman Papua sedang mengalami fase campur tangan," Jelasnya.

‎Ia juga berharap agar pemerintah dapat mengubah kebijakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat sehingga dapat terciptanya kesejahteraan dan keadilan

Penulis: LPM NASIONAL

Editor: Dipsi

Baca tulisan lainnya: BEM FISIP Untad Kawal Beasiswa "Berani Cerdas" Sulteng

Admin - UMUM Senin, 8 Jun 2026 - 6:00 pm

MUNGKIN KAMU SUKA

MENGUPAYAKAN KESEJAHTERAAN BERSAMA: PENINGKATAN KEBERSIHAN KANTIN DALAM LINGKUNGAN KAMPUS

[LPM NASIONAL] Kantin merupakan salah satu area vital yang disediakan oleh kampus guna memberikan pelayanan kepada mahasiswa, dosen maupun masyarakat kampus…

Admin 2 tahun yang lalu
KETIDAKSIAPAN PARLEMEN DALAM MENGGELAR KONGRES KELEMBAGAAN FISIP UNTAD

[LPM NASIONAL] – Parlemen Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tadulako (UNTAD) akhirnya menyelenggarakan Kongres Kelembagaan yang dibuka pada (23/01/2024)…

Admin 2 tahun yang lalu
Rintik Kasih Alam

Hujan datang membasahi bumi,

Bukan untuk menyakiti jiwa.

Dengan lembut ia menari,

Membawa hidup memberi rasa.

Admin 4 bulan yang lalu