BEBAN MAUT ADMINISTRASI KAMPUS
Kematian seorang mahasiswa baru Universitas Tadulako dalam perjalanan pulang setelah Pemeriksaan Kesehatan (PEMKES) bukan sekadar kabar duka, tapi alarm keras bahwa ada yang keliru dalam sistem administrasi kampus. Administrasi seharusnya melindungi dan memudahkan mahasiswa, bukan justru menambah risiko. Apakah prosedur PEMKES ini benar-benar mempertimbangkan keselamatan mahasiswa?
Kampus sering berlindung di balik alasan standar dan ketertiban administratif. Namun realitas mahasiswa tidak sama. Tidak semua tinggal dekat kota, tidak semua mampu biaya perjalanan, dan tidak semua berada di kondisi geografis yang aman. Ketika kebijakan dibuat tanpa sensitivitas terhadap perbedaan ini, yang terjadi bukan sistem yang tertib, melainkan sistem yang timpang.
Lebih ironis, jenis pemeriksaan kesehatan tidak harus terpusat di satu tempat. Fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas atau klinik daerah umumnya bisa menyediakan layanan serupa. Karena itu, kampus tidak bisa lagi bersikap normatif. Evaluasi bukan sekadar opsi, tapi kewajiban moral. Jika sebuah prosedur berkontribusi langsung atau tidak pada hilangnya nyawa, maka prosedur itu gagal menjalankan fungsinya: melindungi.
Tragedi ini juga tidak cukup disebut “kecelakaan lalu lintas”. Ini adalah rantai keputusan dari kebijakan yang tidak inklusif, tanpa mitigasi risiko yang memadai, dan dengan minimnya empati saat merancang sistem. Menganggapnya takdir adalah bentuk menghindari tanggung jawab. Mahasiswa bukan sekadar angka administrasi, melainkan manusia dengan latar belakang dan risiko yang berbeda.
Harus berapa nyawa lagi yang hilang karena kebijakan seperti ini? Apakah evaluasi akan dilakukan setelah ada korban? Sudah saatnya kampus berhenti berlindung di balik “prosedur standar” sementara realitas di lapangan terus memakan korban. Reformasi administrasi lewat desentralisasi layanan bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan mendesak. Kampus perlu sistem yang bukan hanya rapi di kertas, tetapi benar-benar melindungi manusia. Jika kampus gagal mengevaluasi hari ini, kampus bersiap menanggung beban moral atas korban-korban berikutnya.
Penulis : AksaMk
MUNGKIN KAMU SUKA
MESKIPUN SEDIKIT, SETIDAKNYA MASIH ADA
Sebagai seorang mahasiswa akhir, tidak dapat dipungkiri bahwa kita sering kali dihadapkan pada tantangan dan kesulitan yang seakan-akan tak berujung. Terkadang, kita berspekulasi…
GERAKAN KEMANUSIAAN MAHASISWA KOTA PALU TURUN LANGSUNG MEMBERIKAN BANTUAN
Pada Tanggal (18/05/2024) Gerakan Kemanusiaan Mahasiswa Se Kota Palu (GKM) turun langsung ke lokasi untuk memberikan bantuan bagi korban bencana banjir dan tanah…
Tanggapi Aksi Demonstrasi, Dekan FISIP Ingatkan Untuk Tabayyun
Saat ini ada hal yang menjadi persoalan bagi mahasiswa, mulai dari ditandai dengan adanya aksi demonstrasi berskala nasional hingga aksi demonstrasi yang terjadi di lingkungan…
LPM NASIONAL FISIP UNTAD